Ruang kerja kerap diposisikan hanya sebagai tempat menjadi uang. Para buruh datang melakukan aktivitasnya sesuai job desk dan jam kerja yang telah ditentukan. Di beberapa kesempatan mereka menanti kapan waktunya gajian. 


Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tapi ada hal yang patut direfleksikan. Bagaimana caranya agar membangun tradisi intelektual di ruang kerja. Di mana kita tidak hanya sekedar bekerja melainkan turut berdiskusi tentang hal-hal yang selama ini menjadi keresahan dan mungkin mempertengkarkan pikiran. Di ruang itu juga kita mampu menjadikan tradisi intelektual bukan sebagai lipstik, melainkan menjadi habit. 


Tentu tradisi intelektual yang menjadi habit ini tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan hari atau minggu. Butuh intensitas dan konsistensi dengan waktu yang tidak ditentukan. Butuh juga kondisi sosial yang mewadai. 


Lantas bagaimana cara memulai? Dari diri sendiri. Terdengar klise memang. Tapi barangkali itu satu-satunya jawaban. Dari diri sendiri lah yang kemudian mempengaruhi orang lain. Meski tidak semua orang bisa bersepakat. Tapi setidaknya ada teman yang bisa melingkar: membangun tradisi intelektual. 


Pun dari situlah upaya membangun tempat kerja yang terus bertumbuh. Tidak sekedar tempat beraktivitas semata. Sebab di banyak hal yang justru menyelamatkan kita adalah seberapa ilmu yang kita miliki. Ilmu menjadi hal yang sudah semestinya terus diinvestasikan.